Friday 26th April 2019

Serah Terima Jabatan Bank Indonesia Perwakilan Sulut 2019

CAHAYA MEDIA – SULUT, Manado Bertempat di kantor Bank Indonesia Perwakilan Sulawesi Utara pada Jumaat 8 Maret 2019 Deputi Gubernur Bank Indonesia Erwin Rijanto Melaksanakan Serah Terima Jabatan Dimana Soekowardojo akan Melaksanakan Tugasnya yang Baru Sebagai Kepala Bank Indonesia Jawa Tengah yang Baru sedangkan Arbonas Hutabarat Menjadi Kepala Bank Indonesia Perwakilan Sulawesi Utara, dalam Serah Terima jabatan Turut di hadiri oleh Gubernur Sulut Olly Dondokambey, Ketua Dewan Sulut Andrei Anggouw,serta Para Wakikota dan Bupati serta wakil Walikota dan Wakil Bupati Se Sulut dan Para Kepala kepala Per Bankan serta para undangan lainnya.
Dalam sambutan yang di bacakan Oleh Deputi Gubernur Bank Indonesia Erwin Rijanto Mengatakan : sebagai berikut.
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Selamat Pagi dan Salam Sejahtera untuk kita semua
1. Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, karena hanya atas perkenan-Nya kita semua dapat hadir dalam suasana yang baik ini, untuk mengikuti acara “Serah Terima Jabatan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Utara”, dari Sdr. Soekowardojo kepada Sdr. Arbonas Hutabarat.
2. Serah terima jabatan di Bank Indonesia merupakan suatu dinamika lembaga yang berkesinambungan, sebagai upaya menjaga agar organisasi Bank Indonesia tetap memiliki kinerja dan motivasi yang tinggi,sehingga mendukung fungsi, tugas dan peran, serta tanggung jawab Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran serta turut mengembangkan perekonomian nasional maupun regional.
3. Bank Indonesia senantiasa melakukan pengembangan guna menata sekaligus memperkuat peran Kantor Perwakilan Bank Indonesia. Kami berupaya memposisikan Kantor Perwakilan Bank Indonesia secara tepat dan sesuai dengan perkembangan, tantangan, dan potensi ekonominya. Di samping itu, kami mendorong Kantor Perwakilan Bank Indonesia agar dapat menjalankan perannya sebagai mitra strategis Pemerintah Daerah dengan baik serta mampu menjalankan fungsi strategic advisory dalam menyelesaikan berbagai permasalahan ekonomi di daerah.
4. Tahun 2018 lalu merupakan periode yang penuh tantangan dimana kondisi perekonomian global yang diliputi ketidakpastian. Perekonomian dunia konvergen melambat seiring pertumbuhan ekonomi beberapa negara utama dunia yang tumbuh dibawah perkiraan. Kemudian, berlanjutnya normalisasi kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat yang akan diikuti Uni Eropa dan negara maju lainnya menambah risiko pengetatan likuiditas global. Di sisi lain, ketegangan geopolitik dan hubungan dagang negara maju menimbulkan ketidakpastian dan mendorong tingginya premi risiko investasi ke negara Emerging Markets.
5. Kondisi ini mendorong kuatnya mata uang dollar AS, serta berdampak pada pembalikan modal asing dan pelemahan mata uang negara Markets, termasuk Indonesia.
6. Patut kita syukuri, bahwa di tengah ekonomi global yang kurang kondusif, kinerja dan prospek ekonomi Indonesia cukup baik. Stabilitas terjaga, momentum pertumbuhan berlanjut. Pertumbuhan ekonomi yang cukup baik di tahun 2018 diperkirakan dapat meningkat di tahun 2019, ditopang kuatnya permintaan domestik, baik konsumsi maupun investasi. Inflasi yang rendah pada tahun 2018 akan tetap terkendali sesuai sasaran 3,5 + 1%. Rupiah akan bergerak lebih stabil sesuai mekanisme pasar. Stabilitas Rupiah ditopang pula oleh penurunan defisit transaksi berjalan ke tingkat yang lebih aman. Stabilitas sistem keuangan terjaga, kenaikan pertumbuhan kredit akan berlanjut di tahun 2019 dengan likuiditas yang cukup, disertai pembiayaan pasar modal yang juga akan meningkat.
7. Berbagai pencapaian yang diraih disertai kondisi stabilitas makroekonomi yang ditopang oleh kredibilitas kebijakan dan prospek ekonomi yang positif menjadi landasan yang kokoh untuk memperkuat momentum pemulihan ekonomi menuju pertumbuhan ekonomi yang kuat, berkelanjutan, seimbang dan inklusif.
8. Keberhasilan pembangunan nasional merupakan refleksi dari pembangunan di tingkat regional. Beranjak ke Provinsi Sulawesi Utara, pertumbuhan ekonomi pada tahun 2018 mencapai angka 6,01%, diatas pertumbuhan nasional. Pertumbuhan Provinsi Sulawesi Utara terutama didorong oleh peningkatan kinerja sektor transportasi dan perdagangan,seiring dengan meningkatnya sektor pariwisata. Selain itu, pembangunan infrastruktur telah menjadikan lapangan usaha konstruksi sebagai salah satu faktor penyumbang pertumbuhan ekonomi.
9. Pertumbuhan pada beberapa sektor ekonomi tersebut membuat kualitas pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara cenderung meningkat. Angka kemiskinan dan rasio gini berada di bawah nasional, serta indeks pembangunan manusia yang berada di atas nasional.
10. Disamping beberapa capaian tersebut, Provinsi Sulawesi Utara jugamenunjukkan prestasi yang menggembirakan, diantaranya: Program Operasi Daerah Selesaikan Kemiskinan (ODSK) yang dicanangkan Gubernur Sulawesi Utara menunjukkan hasil yang optimal. Melalui program ODSK, angka kemiskinan pada 2018 turun menjadi 7,59%. Demikian halnya tingkat pengangguran tahun 2018 mencapai 6,86%, turun dari tahun 2017 yang sebesar 7,19%. Program ODSK telah menerima penghargaan TOP 99 Inovasi Pemerintah Daerah serta Penghargaan Adhi Purna Prima Award sebagai provinsi dengan tingkat kemiskinan terendah se-Pulau Sulawesi. Jumlah kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegarameningkat diatas target, terutama pertumbuhan wisatawan mancanegara yang tumbuh rata-rata 86% (yoy) selama tiga tahun terakhir. TPID Sulawesi Utara memperoleh penghargaan sebagai TPID terbaik se-Sulawesi pada tahun 2017, serta TPID Kota Bitung yang meraih penghargaan sebagai TPID berprestasi di tahun 2017; dan Provinsi Sulawesi Utara dijadikan sebagai klaster kelapa nasional berkat potensi kekayan sumber daya alam dan pengelolaannya yang baik.
11. Tingkat Inflasi Provinsi Sulawesi Utara pada tahun 2018 tercatat sebesar 3,83% (yoy). Inflasi terutama disumbang oleh komponen angkutan udara dan bahan makanan. Meskipun menunjukkan perbaikan signifikan, pergerakan tingkat inflasi ke depan masih harus tetap diwaspadai. Risiko tekanan inflasi inti pada tahun 2019 antara lain berasal dari pelaksanaan Pilpres 2019 dan ekspektasi inflasi untuk barang konsumsi menjelang hari raya keagamaan nasional. Sementara tekanan inflasi prices diperkirakan rendah akibat minimalnya penyesuaian harga dari Pemerintah. Tekanan inflasi volatile foods diperkirakan sejalan dengan pola seasonal-nya.
12. Upaya pengendalian inflasi dilakukan Bank Indonesia bersama TPID melalui berbagai upaya serta koordinasi yang erat antar Instansi terkait. Dengan tantangan tahun ini yang relatif kompleks, Bank Indonesia bersama TPID akan terus berupaya untuk memelihara ketersediaan pasokan, menjaga harga, dan memastikan kelancaran distribusi melalui operasi pasar serta pengelolaan ekspektasi masyarakat.
13. Selain itu, Bank Indonesia juga memiliki program unggulan pengendalian inflasi maupun9 pengembangan ekonomi daerah. Dalam upaya pengendalian inflasi, Bank Indonesia mengembangkan klaster ketahanan pangan, yaitu klaster Bawang Merah dan Tomat Sayur di Minahasa, klastercabe di Kepulauan Sangihe, Sitaro dan Minahasa, serta klaster Pertanian Terpadu di Bolaang-Mongondow. Selain program ketahanan pangan, Bank Indonesia juga melaksanakan program pengembangan potensi ekonomi daerah berupa klaster Kopi dan Nanas di Kotamobagu.
14. Bank Indonesia juga terlibat langsung dalam upaya mendorong investasi di Sulawesi Utara melalui inisiasi pengembangan Regional Investor Relation Unit (RIRU) bersama dengan Dinas dan Instansi terkait. Secara nasional, RIRU Sulut merupakan salah satu dari tujuh Pilot Project yang dikembangkan Bank Indonesia.
15. Di tengah pemulihan ekonomi yang terjadi, perekonomian masih akan dihadapkan pada tantangan baik global maupun domestik. Dari sisi global, perkembangan kebijakan moneter di beberapa negara maju serta permasalahan perdagangan dan geopolitik masih akan memberikan pengaruh terhadap arah pergerakan likuiditas dunia yang dapat memberikan tekanan terhadap kondisi ekonomi di negara berkembang.
16. Dari sisi domestik, perkembangan ekonomi yang terus membaik masih menyiratkan beberapa tantangan dalam beberapa hal. Pertama, perbaikan struktur ekonomi domestik untuk mendukung penyerapan tenaga kerja. Kedua, kapasitas perekonomian yang terbatas memicu impor yang lebih tinggi. Selanjutnya, terbatasnya sumber-sumber pembiayaan domestik yang menyebabkan tingginya ketergantungan pada sumber pembiayaan dari luar negeri terutama dalam bentuk arus modal portofolio dan utang luar negeri swasta.
17. Mencermati berbagai tantangan di pasar global maupun domestik, kebijakan Bank Indonesia akan tetap difokuskan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan memperkuat momentum pemulihan ekonomi domestik.
18. Bauran kebijakan Bank Indonesia yang telah ditempuh pada tahun 2018 akan semakin kami perkuat pada tahun 2019 ini. Kebijakan moneter akan tetap difokuskan pada stabilitas, khususnya pengendalian inflasi dan stabilitas nilai tukar Rupiah sesuai fundamentalnya. Sementara itu, kebijakan yang akomodatif akan terus ditempuh di bidang makroprudensial, sistem pembayaran, pendalaman pasar keuangan, dan ekonomi keuangan syariah.
19. Bank Indonesia juga akan terus memperkuat sinergi dengan seluruh pemangku kepentingan di pusat dan daerah. Kami percaya, untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang berkeadilan dan berkesinambungan, perlu didukung oleh rencana konkrit dan tindakan nyata dari semua pihak.
20. Sinergi antar pemangku kepentingan menjadi kunci untuk memperkuat ketahanan dan mendorong momentum pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Kerjasama, kemitraan dan koordinasi menjadi kebutuhan dalam menjalankan konsep pertumbuhan dan pemberdayaan ekonomi yang berkelanjutan. Untuk itu, sinergi kebijakan antara Bank Indonesia dengan Pemerintah, Pemerintah Daerah, OJK, dunia usaha dan mitra kerja lainnya yang telah erat akan semakin kami perkuat. Sinergi kebijakan antara lain dalam hal pengendalian inflasi, perbaikan struktur perekonomian, stabilitas sistem keuangan, pendalaman pasar keuangan, serta ekonomi dan keuangan digital.
21. Untuk itu, kami mengajak seluruh pemangku kepentingan di Provinsi Sulawesi Utara untuk terus memperkuat kerjasama, bersinergi dalam menjalankan kebijakan demi mewujudkan kontribusi nyata bagi pembangunan ekonomi.
22. Kami atas nama Dewan Gubernur Bank Indonesia dan segenap jajaran KantorPerwakilan Bank Indonesia Sulawesi Utara, mengucapkan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh jajaran Pimpinan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, Pemerintah Kabupaten/Kota se-Sulawesi Utara,instansi terkait, perbankan, akademisi, pelaku usaha, dan mitra strategis yang telah memberikan dukungan dan kerjasama selama ini.
23. Kami berharap komunikasi yang baik, koordinasi yang intensif, serta kolaborasi sinergis yang telah terjalin dapat terus ditingkatkan.
24. Terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkenan menghadiri acara pada pagi hari ini. Mudah-mudahan semua yang kita lakukan untuk kemajuan negara, bangsa, dan masyarakat, diridhoi Tuhan yang Maha Esa, kata Deputi Gubernur Bank Indonesia Erwin Rijanto. (Nixon Tanos)

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses