Sunday 22nd September 2019

Andrei Anggouw Hadiri TPID di Bank Indonesia Perwakilan Sulut

 

CAHAYA MEDIA – SULUT, MANADO-Ketua DPRD Sulawesi Utara (Sulut), Andrei Angouw SE (AA) menghadiri High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Sulut yang digelar di aula Bank Indonesia Perwakilan Sulut, pada Senin (20/5/2019).

AA memberikan apresiasi atas kinerja TPID Provinsi Sulut sehingga mampu menjaga stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi.

“Namun hal itu harus tetap diwaspadai, jangan sampai lengah. Terutama saat menjelang hari besar keagamaan yang seringkali diikuti dengan kenaikan harga pangan. Ini harus dikawal agar inflasi terkendali,” tandasnya.

Pada pertemuan yang membahas
Ketahanan Stabilitas Harga dan Pertumbuhan Ekonomi tersebut, AA mendampingi Gubernur Sulut Olly Dondokambey SE.

Olly mengatakan kehadiran TPID telah banyak memberikan kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi. Hal itu tidak lepas dari peran dan sinergitas bahkan koordinasi semua stakeholder.

“Peran TPID ini membutuhkan sinergitas dan dukungan kabupaten/kota, yakni melalui empat kebijakan utama (4K) yang mencakup keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif,” kata Olly.

Lanjut kata Olly, sejak dibentuknya TPID di Provinsi Sulut dari tahun ke tahun, inflasi yang ada di Bumi Nyiur Melambai menunjukkan perkembangan sangat baik.

“Inflasi kita dapat terjaga dengan baik, bahkan mendapatkan satu penghargaan sebagai daerah dengan inflasi terbaik se Sulawesi. Inilah yang harus dijaga. Sebab, untuk apa pertumbuhan ekonomi kita tinggi, jika inflasi juga tinggi. Maka hal itu tidak ada nilainya,” sebutnya.

Inflasi yang terjaga, sebut Olly akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Di mana sampai dengan April 2019, Sulut mengalami deflasi sebesar 1,27%.

“Ini menjadi tabungan kita di awal tahun ini, terutama menjelang lebaran,” tandasnya.

Sebelumnya, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulut, Arbonas Hutabarat, mengatakan
TPID Provinsi Sulut memiliki peran penting, dalam menjaga stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi.

Hal itu dapat terlihat dari catatan inflasi Sulut tahun 2001 hingga tahun 2010, secara rata-rata mencapai angka 8,65% (yoy).

“Namun, setelah TPID dibentuk pada tahun 2010, rata-rata Inflasi tahunan turun hingga hampir 50% setengahnya ke angka 4,59% (yoy),”  ungkapnya.

Menjelang paruh pertama tahun 2019 ini  inflasi Sulut, kata Arbonas, menunjukan perkembangan yang cukup menggembirakan.

“Pada bulan April, Sulawesi Utara mencatat deflasi sebesar -1,27% (mtm). Deflasi tersebut menyebabkan inflasi tahunan per bulan April 2019, mencapai angka 0,07% (yoy) dan inflasi tahun kalender sebesar -1,42% (ytd).
Kerjavsama dan sinergi yang baik antar lembaga, khususnya melalui forum TPID, menjadi kunci keberhasilan menjaga inflasi di angka yang rendah dan stabil tersebut.” tukasnya.

Namun demikian, sambung Arbonas, inflasi Sulut harus diwaspadai. Mengingat banyaknya tantangan dalam pengendalian  ke depan yang masih harus dihadapi.

Turut hadir pada kesempatan ini,
Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Sulut, Ir M Rita Dondokambey-Timuntuan, Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Utara, Edwin H Silangen SE MS, pimpinan daerah yang mewakili walikota/bupati se Sulut.(Nixon Tanos)

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.