Friday 30th October 2020

Dirut Jimmy Panelewen : Salah Persepsi dari Nakes Terkait Insentif Kesehatan Penanganan Covid 19

CAHAYA MEDIA – SULUT, Manado DR. Dr. Jimmy Panelewen selaku Dirut RSUP Prof Kandou Malalayang bersama Forum Komunikasi Dokter Spesialis PPDS-I Unsrat seusai Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi IV DPRD Sulut terkait proses dan teknis penanganan Covid-19, pada Selasa 14/7/2020 (Siang) ditemui oleh awak media. Dalam sesi wawancara singkat tersebut, Panelewen menyampaikan bahwa ada persoalan salah persepsi dari para Tenaga Kesehatan (Nakes) terkait insentif Kesehatan dalam penanganan Covid-19 yang disampaikan oleh Presiden beberapa waktu lalu.

“Terkait Insentif Kesehatan yang disampaikan oleh Presiden, mungkin ini ada Miss komumikasi atau salah persepsi dari teman-teman Tenaga Kesehatan, pertama yang harus dipahami bahwa misalnya dokter ahli itu harus mendapatkan 15 Juta per bulan itu bukan berarti harus 15 Juta tetapi ada kata-kata disitu setinggi-tingginya 15 Juta per bulan dan itu ada perhitungan-perhitungannya “, ungkap Penelewen.

Jimmy Panelewen pun menjelaskan bahwa angka insentif kesehatan yang disampaikan oleh Presiden itu ada komponen-komponen hitungannya sendiri. “15 Juta dia akan dapatkan begitu misalnya semua perhitungan itu masuk dalam komponen-komponen perhitungan, jadi contohnya dia harus melakukan kunjungan-kunjungan dokter terhadap pasien setiap hari maka dia harus lakukan tiap hari begitu dia tidak melakukan 5 kali atau 6 kali maka itu akan terpotong, jadi tolong dipahami kata Presiden itu setinggi-tingginya”, tegas Dirut RSUP Prof Kandou Malalayang ini.

Panelewen pun menegaskan itu berlaku untuk semua insentif kesehatan untuk Nakes. “Jadi itu berlaku untuk semua insentif kesehatan Nakes, dimana setinggi-tingginya untuk Dokter Ahli 15 Juta, Dokter Umum 10 Juta, untuk perawat 7,5 Juta dan tenaga kesehatan lainnya 5 Juta”, ujar Panelewen.

Sementara itu disinggung mengenai para Sopir Ambulance yang tidak mendapatkan Insentif Kesehatan ini, padahal mereka juga bersinggungan dengan pasien-pasien positif Covid-19, Panelewen menjelaskan bahwa para Sopir Ambulance tidak termasuk dalam penerima Insentif Kesehatan tersebut.

“Untuk tenaga Ambulance itu sudah kami tanyakan langsung bahwa itu tidak bisa, bahkan saat Vidcon dengan Kementrian Kesehatan bahkan saya sudah paparkan semua yang kontak dengan pasien Covid itu saya masukkan (sebagai penerima Insentif) tetapi setelah diproses oleh Kemenkes melalui bidang PPSDM dan juga Kementerian Keuangan itu tidak bisa jadi itu hanya berlaku bagi Dokter Ahli, Dokter Umum, Perawat dan tenaga kesehatan lainnya, tenaga kesehatan lainnya itu misalnya Laboratorium, rontgen, farmasi jadi mereka itu yang bisa dapat”, jelas Jimmy Panelewen.

Melihat kenyataan apa yang diterima dari para tenaga Ambulance tersebut, Panelewen turut merasa prihatin oleh karena itu pihaknya yaitu RSUP Prof Kandou mengambil inisiatif untuk memberikan tambahan Remunerasi. “Memang kasihan juga untuk para ambulance karena dia yang antar-antar mayat, tetapi kemudian secara internal Rumah Sakit bikin kebijakan mereka akan mendapatkan tambahan Remunerasi cuma tetap bila di kumulasi Remunerasi yang akan mereka peroleh masih dibawah dibandingkan dengan sebelum Covid, karena RSUP Kandou itu pembiayaannya berdasarkan pendapatan Rumah Sakit”, ucap Panelewen.

Panelewen pun menambahkan bahwa pihak RSUP Prof Kandou sedang mengupayakan beberapa cara untuk mengubah stigma buruk masyarakat pasca Pandemi Covid-19 ini dan salah satunya dengan pelayanan kesehatan lewat aplikasi Telmek yang sudah tersedia di Playstore Smart Phone Android. “Kami sementara merancang aplikasi konsultasi dokter dengan pasien lewat Virtual, dan namanya aplikasi Telmek (Telemedicine Kandou) dan itu masih ada di Playstore handphone Android, kami juga sudah daftarkan ke iPhone supaya bisa tersedia disitu. Jadi nantinya pasien tidak perlu ke rumah sakit dia cukup masuk ke aplikasi nanti dia berkonsultasi dengan dokter kalau misalnya dokter bisa melihat ada kelainan contoh di kulitnya atau mungkin pasien bisa mengirimkan foto agar dokter bisa menentukan tetapi kalau juga dokter belum bisa menentukan mungki bisa melakukan janjian untuk ketemu di Rumah Sakit”, ungkap Dirut RSUP Prof Kandou Malalayang ini.

Jimmy Panelewen pun berharap kepada semua pihak untuk juga bisa melakukan penyuluhan kepada masyarakat sehingga kiranya masyarakat jangan takut ke Rumah Sakit Prof Kandou, karena kalau ada rasa takut tersebut bisa saja memperparah penyakit dari orang tersebut (Nixon Tanos), Dian LS.

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.